Lahan kosong seluas 60 meter persegi di dekat balai desa kini menjadi tempat favorit anak-anak sepulang sekolah. Di sana berdiri taman bacaan beratap bambu dengan rak kayu berisi ratusan buku.
Pembangunannya dilakukan secara gotong royong selama tiga pekan. Warga menyumbang material, tenaga, dan waktu, sementara komunitas mahasiswa membantu menata koleksi buku serta jadwal pendampingan belajar.
"Awalnya hanya ingin membuat tempat menunggu orang tua yang mengambil air bersih. Anak-anak lalu ikut membaca, akhirnya kami tambah rak dan lampu," kata Ketua Karang Taruna, Arif Nugroho.
Koleksi buku terdiri atas buku cerita, ensiklopedia anak, dan buku pelajaran. Sebagian berasal dari sumbangan warga yang anaknya sudah dewasa, sebagian lagi dari perpustakaan keliling kabupaten.
Setiap Sabtu pagi, relawan mahasiswa menggelar kegiatan mendongeng dan belajar bersama. Anak-anak yang datang tidak dipungut biaya dan boleh meminjam buku untuk dibawa pulang.
Pemerintah desa berencana menambahkan penerangan dan memperluas area duduk agar taman bacaan bisa dipakai pada malam hari, terutama saat musim hujan.




