Sebuah desa wisata di Bali mengembangkan paket menginap ramah lingkungan yang dikelola langsung oleh warga. Penginapan dibangun memakai bahan lokal seperti bambu dan batu, dengan tata letak yang mempertahankan pepohonan lama.
Pengelola program, Wayan Sukarta, menjelaskan tamu dilibatkan dalam pengelolaan air dan pemilahan sampah selama menginap. Air bekas pakai dialirkan ke taman penyaring alami, sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos untuk kebun desa.
Sebagian wisatawan menilai konsep ini memberi pengalaman berbeda karena mereka dapat mengikuti kegiatan harian warga, seperti menanam padi atau membuat minyak kelapa. Namun, pengelola mengakui jaringan internet masih terbatas di beberapa titik.
Desa menargetkan penambahan kapasitas kamar secara bertahap tanpa menambah beban lingkungan dan tetap melibatkan keluarga setempat sebagai tuan rumah.






